Puncak Peringatan 100 Tahun Jam Gadang Bukit Tinggi Meriah

IPOLEKSOS 20 Jun 2026 15:16 3 min read 17 views By Fadhsa
Puncak Peringatan 100 Tahun Jam Gadang Bukit Tinggi Meriah
Suasana puncak perayaan 100 Tahun Jam Gadang di Bukittinggi, Sumbar terlihat dari udara.

Koran Bintan.com | BUKITTINGGI — Jam Gadang genap berusia satu abad pada tahun 2026 ini. Di usia 100 tahun, ikon Kota Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar) itu dinilai bukan sekadar penunjuk waktu, melainkan penanda perjalanan panjang sejarah Indonesia.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, saat menghadiri malam puncak peringatan 100 Tahun Jam Gadang yang bertajuk “Jam Gadang Cultural Night” di Bukittinggi, Sabtu (20/6/2026) malam.

Menurut Fadli, Jam Gadang telah menjadi saksi berbagai fase penting perjalanan bangsa. Mulai dari masa kolonial, pergerakan nasional, kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, hingga pembangunan Indonesia modern.

“Jam Gadang bukan sekadar penanda waktu, tetapi juga penanda zaman,” ulang Fadli.

Fadli yang memiliki orangtua berasal dari Payakumbuh, Sumbar ini menilai keberadaan Jam Gadang merekam perjalanan sejarah yang panjang sekaligus menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Minangkabau dan Indonesia.

Agenda 100 Tahun Jam Gadang

Fadli juga mengapresiasi penyelenggaraan peringatan satu abad Jam Gadang yang dapat terlaksana melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, sektor swasta, korporasi hingga masyarakat.

Menurut Fadli, kebudayaan merupakan salah satu kekuatan utama Indonesia sebagai negara yang memiliki keragaman budaya sangat besar. “Kebudayaan adalah sumber kekuatan kita. Kita adalah negara yang memiliki keberagaman luar biasa. Termasuk Minangkabau dengan berbagai ekspresi dan nilai budayanya,” katanya.

Pria dengan gelar Datuak Bijo Dirajo Nan Kuniang ini berharap peringatan 100 Tahun Jam Gadang tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi mampu memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga warisan budaya dan sejarah bangsa.

Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias mengatakan rangkaian peringatan 100 Tahun Jam Gadang telah berlangsung sejak 3 Juni dan ditutup dengan malam puncak pada 20 Juni.

Menurut Ramlan, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat kecintaan terhadap sejarah dan budaya sekaligus menegaskan posisi Bukittinggi sebagai salah satu pusat kebudayaan penting di Indonesia.

"Bangunan ikonik ini bukan hanya penanda waktu, tetapi juga simbol perjalanan sejarah masyarakat Minangkabau," ujar Fadli.

Senada dengan itu, Wakil Gubernur Sumatra Barat Vasko Ruseimy mengatakan, Jam Gadang tidak hanya menjadi ikon Bukittinggi, tetapi juga simbol perjuangan dan perjalanan sejarah bangsa.

Menurut Vasko, perayaan satu abad Jam Gadang tidak hanya mengenang usia sebuah bangunan bersejarah. Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa Sumbar memiliki warisan sejarah dan budaya yang harus terus dijaga serta diwariskan kepada generasi mendatang.

“Momentum satu abad Jam Gadang ini bukan hanya tentang merayakan usia, tetapi juga mengingatkan kita bahwa ada perjalanan sejarah panjang yang harus terus dijaga. Jam Gadang telah menjadi bagian dari identitas Sumatera Barat dan kebanggaan masyarakat Minangkabau,” ungkap Vasko.

Vasko menilai pelestarian warisan budaya menjadi penting agar generasi muda tetap mengenal akar sejarahnya. Sejarah dan budaya merupakan modal sosial yang dapat memperkuat karakter masyarakat sekaligus mendukung pembangunan daerah di masa depan.

“Momentum satu abad Jam Gadang ini bukan hanya tentang merayakan usia, tetapi juga mengingatkan kita bahwa ada perjalanan sejarah panjang yang harus terus dijaga. Jam Gadang telah menjadi bagian dari identitas Sumatera Barat dan kebanggaan masyarakat Minangkabau,” ujar Vasko.

Rangkaian perayaan diisi berbagai kegiatan, mulai dari kompetisi fotografi, Festival Internasional Literasi Minangkabau, seminar internasional, pertunjukan seni budaya, hingga kuliner gratis untuk masyarakat.

Puncak perayaan yang dipusatkan di monumen Jam Gadang tersebut semakin semarak dengan penampilan beragam atraksi budaya Minangkabau serta diakhiri dengan Festival Kuliner Tradisional Gratis yang menyediakan lebih dari 41.790 porsi makanan tradisional bagi masyarakat dan pengunjung.

Terlihat hadir dalam acara itu, anak-anak proklamator Mohammad Hatta, Meutia Hatta dan Halida Hatta, keluarga Syafruddin Prawiranegara, serta perwakilan pemerintah daerah dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatra Barat.(han)

Chat with us on WhatsApp